Lost in Translation
Finally, my dreams come true!
Setelah sekian lama bermimpi dan berkhayal untuk berkunjung ke negerinya Mika Nakashima dan Kenshin Himura, akhirnya kesempatan itu datang juga. Salah satu vendor perusahaan tempat gue bekerja mengirimkan invitation untuk mengikuti training produk mereka sekaligus factory visit ke tempat pembuatan/perakitan produk tersebut. Hebatnya lagi, jadwal keberangkatannya bertepatan dengan hari H-1 ulang tahun gue. Karena berangkat dari Jakarta tanggal 12 Maret 2005 pukul 19.20, plus transit di Singapore, alhasil tanggal 13 Maret pukul 00.00 gue lagi dalam perjalanan ke Jepun, dan dijadwalkan mendarat di Narita sekitar pukul 07.05 waktu setempat. Yatta!!!
Begitu transit di Changi dan menunggu masuk ke pesawat, suasana Jepun sudah mulai terasa dengan banyaknya ABG Nihon-jin yang ber-cas-cis-cus dengan nihongo-nya. Begitu pula di pesawat, berulang kali pramugari menyampaikan pengumuman dalam nihongo (tentu saja plus eigo) dengan suaranya yang imut bangetttt… Kayaknya dia pramugari SQ asal Jepun, soalnya nihongo-nya lebih jelas dibanding eigo-nya ![]()

Singkat cerita, sampailah di Narita keesokan paginya. Sambil menunggu bis yang akan membawa kami berenam ke Shinagawa Prince Hotel, kami disibukkan dengan aktivitas masing2. Ada yang siap2 ngeborong belanjaan (nukerin USD ke JPY), ada yang sibuk melototin telepon umum plus mesin prepaid card dan cara penggunaannya, ada juga yang sibuk coba2 akses Internet yang ada di kiosk situ (dengan rate 100 JPY per 10 menit!). Beberapa menit sebelum bis datang, kami memindahkan aktivitas ke tempat menunggu bis sambil menjajal dinginnya udara di luar. Ternyata alat pengukur temperatur di luar ruangan menunjukkan angka 5.3 derajat Celcius! Brrrr…. Dinginnyaaaa…
Eh, ada cewe2 lewat… “pssst.. Neng! Coba difoto dulu!”. Ternyata mereka adalah Koryo-jin. Anyonghaseyo!
Setelah menghabiskan lebih kurang 1 jam perjalanan dari Narita ke hotel, kami baru mengetahui kalau waktu check-in baru dibuka pukul 1 siang. Karena masih punya cukup waktu buat jalan2, akhirnya diputuskan untuk menitipkan barang bawaan di hotel dan kami jalan2. Sayangnya, ini adalah kali pertama kami semua mengunjungi Tokyo (dan Jepang, tentu saja, meskipun ada rekan vendor yang udah pernah beberapa kali ke Jepang cuman sayangnya belum pernah ke Tokyo). Karena malam sebelumnya udah browsing tempat tujuan di Tokyo, gue coba ajak mereka ke Akihabara, tempat jualan barang elektronik. Mangga Dua / Glodok-nya Jepun kali yah? Masalahnya adalah, kami gak ada yang tau gimana caranya ke sana, dan gak ada yang inisiatif nanya ke resepsionis hotel. Akhirnya diputuskan kami akan mengikuti kemana kebanyakan orang mengarah (bahasa kerennya: go with the flow).
Ahhh.. ternyata Shinagawa Station deket banget sama Shinagawa Prince Hotel. Begitu nyampe ke depan station, kebingungan langsung melanda! Semuanya ditulis dalam kanji!!! DZIGH!
Temen gue coba nanya ke bagian information, tapi gak ada hasil, karena dia gak ngomong eigo. Kami coba masuk ke dalam, siapa tahu ada bagian information lainnya yang bisa eigo. Eh, yang ada malah ticket machine berjajar dan JR map lagi2 dengan kanji! Satu2nya romaji yang ada adalah harga tiket ke masing2 tujuan. Berdasarkan harga tiket dan JR map, ada beberapa station yang harganya sama dengan Akihabara yaitu 160 JPY. Bingung dong!
Finally, kemampuan (atau ketidakmampuan?) nihongo gue diuji di sini. Gue disuruh temen2 buat nanyain ke orang2 di situ, gimana caranya ke Akihabara. Cuman karena gak ada cewe cantik yang keliatan bisa ditanyain (semuanya pada sibuk, jalan cepet2), alhasil praktek nihongo-nya tertunda. Dengan sedikit modal informasi jalur berwarna hijau muda ke arah Akihabara (ada 2 line) plus nekad, kami putuskan buat beli tiket seharga 160 JPY, dan coba masuk ke dalam. Di dalam, ada counter information yang berisikan dua cewe Jepun lumayan manis. Nekat aja lah…
Akhirnya keluar juga kalimat dalam nihongo pertama dari mulut gue, meskipun cuman nanya “bisa bahasa Inggris gak?” Karena jawabannya positif, akhirnya sisa percakapan dilanjutin pake eigo. Hehehehe…*fyuh, berhasil juga ke Akihabara.*
Karena waktunya sangat terbatas, kami gak bisa lama2 keliling Akihabara. Cuman keliling beberapa toko, plus ngeliatin mbak2 yg bagiin selebaran (lucu2, pake rok mini pula), kami harus balik lagi ke hotel buat check-in.
Selesai check-in dan ganti kostum berlapis sweater ditambah jaket, kami sepakat buat nyari makan siang deket hotel. Begitu keluar hotel, udara jadi semakin dingin. Tiba2 turun hujan salju rontok2 (kalo rintik2 kan buat hujan air
) What a lucky day! Katanya sih jarang2 pertengahan Maret di Tokyo ada hujan salju. Kalo gue bilang sih, itu kan karena gue ulang tahun ![]()
Sambil menunggu hujan salju reda, kami makan di TGIF. Karena kayaknya belum pernah ada yg makan di TGIF (padahal di jakarta juga ada), kami salah pesen makanan. Di display menu, keliatannya satu porsi makanannya kecil2, karena di situ juga tulisannya appetizer. Jadilah kita pesen porsi yg gede. Taunya, pas pesenannya datang, porsinya gede buanget! Untung pelayannya kawaii2 dan senyum2 terus, jadinya gak bete2 amat. Padahal mungkin bukan senyum2 ramah, tapi ngetawain karena kita salah pesen ![]()
Dari keenam orang yg salah pesen, cuman Mas Agung yang bisa ngabisin semua makanannya, padahal itu udah ditambah satu porsi soup! Mungkin saking takjubnya sama kekuatan perut Mas Agung, si mbak2 nan kawaii itu ngasih bonus ice lemon tea ke Mas Agung! Udah gitu ngasihnya sambil senyum2 lagi… aihhhh lutunaaaaaaaa….
Abis makan, kami balik ke hotel buat istirahat, kemudian malamnya kumpul lagi buat makan malam. Setelah berpusing2 ria mencari tempat makan, plus bolak-balik nunggu tempat jualan ramen agak sepi (namun sayangnya selalu antre dan gak pernah sepi), akhirnya kita makan di beer restaurant. Karena kita masuk ke situ udah jam 10 malem dan restorannya tutup jam 10.30 malem, alhasil kita cuman boleh sekali pesen alias LASTO ORDERU! RASUTO OODAA! (thanks to hyoutan atas koreksinya
) Berdasarkan pengalaman buruk makan siang, akhirnya kita pesen makanan buat dimakan rame2. Hasilnya? Makanan yg datang dikit banget! Buat ngasih makan cacing aja gak cukup, sementara cacing2 yg ada di perut udah berubah jadi naga.
Apa mau dikata? Akhirnya kita kembali ke hotel untuk beristirahat dengan perut antara lapar karena makan malamnya dikit dengan eneg karena makan siang kebanyakan.
Ternyata beginilah rasanya lost in translation itu…
Comments
hehehe..
seru juga Gi…
btw. loe udah bisa nonton anime tanpa translation belum?
belom bud..
tapi kalo nonton JAV sih udah gak perlu pake subtitle lagi
skrinsyot plis… cape bacanya, coba ada fotonya, kan tulisannya gak perlu dibaca… kekkekeke…
hihi mana ada lasto orderu di sana… ada juga rasuto oodaa ;P
huehehe…lost in translation bangetttt!!!…
tapi kok ada poto2nya sih?….poto2 plisss…
#4: hahaha.. gitu yah? yg kedengernya lasto order sih.. hehehe..
thx buat koreksinya
skrinsot plis!
khas nugi banget
ceritanya tentang cewe cakep melulu huehehheh
#3,5,7: sebagian skrinsyot udah ditampilin tuh.. yg lainnya menyusul posting berikutnya
Nugiiiii…. oleh2 yaaaaa hehehehe
[…] Dimulai dari kepindahan lokasi kantor gue ke pusat kota, tepatnya ke daerah Thamrin, rupanya Dewi Keberuntungan turut serta menemani kepindahan gue tersebut. Beberapa minggu setelahnya, cita-cita terbesar gue tercapai bertepatan dengan hari ulang tahun gue. Ya, untuk pertama kalinya gue berhasil menginjakkan kaki di Negeri Samurai. Meskipun cuman sebentar, bahkan secara bergurau gue selalu mengatakan bahwa itu bagaikan pergi umrah ke Jepun, tapi moment tersebut merupakan hadiah ulang tahun yang terindah, yang sangat berkesan dan entah sampai kapan akan dapat bertahan di memori gue. […]
Pay Day Loan No Direct Deposit…
Pay day loans with no faxing fine-looking pay day loans with no faxing….