Kemarin sore saya baru mendapatkan e-mail dari boss saya mengenai acara di salah satu Pemda di Pulau Jawa. Biasanya saya tidak terlalu memperhatikan detail dari acara-acara seperti itu. Tapi, sewaktu sepintas lalu melihat jadwal acara yang akan berlangsung, mata saya tertuju ke satu baris acara yang tertulis di situ.

Saya langsung teringat akan tulisan Priyadi mengenai kepakaran Roy Suryo dan obrolan teman-teman sewaktu di Bandung weekend kemarin.
Ironis! Alangkah mudahnya seseorang dijuluki pakar oleh media (entah siapa yang memulainya) tanpa melihat background yang jelas dari orang tersebut, hanya karena dianggap berhasil memecahkan kasus GhalibGate, yang sampai sekarang analisa dari “pakar” tersebut masih diperdebatkan oleh orang-orang lain yang lebih kredibel. Sudah sedemikian rendahkah penilaian publik mengenai kepakaran seseorang?
Saya jadi tersenyum mengingat pertanyaan teman saya, Igun, beberapa waktu yang lalu. Katanya, “Kalau orang yang bisa ngobatin orang sakit, dan dia sekolah di kedokteran, dia disebut dokter. Tapi kalau orang itu gak sekolah di kedokteran, dia disebut dukun. Nah, kenapa orang yang bisa bikin program (komputer), tapi gak sekolah di informatika, tetep disebut programmer juga? Kenapa gak disebut dukun?”
Kurang lebih, begitulah pikiran saya mengenai “pakar” yang satu ini. Kenapa kita tidak mulai dengan memanggil dia “dukun internet” atau “dukun multimedia” saja?