Dikutip dari http://www.goenglish.com/YouCantJudgeABookByItsCover.asp:
You can’t judge a book by its cover means that before you can judge something, you need to take a deeper, closer look at it. Example: “He dresses in plain clothes and drives an old car. Who would know he is the richest man in town?” Reply: “You can’t judge a book by its cover.”
The value of something is not always obvious from what we see on the surface, so we should save our judgments until we have more experience. Example: “That professor may seem slow and awkward, but don’t judge a book by its cover. He is one of the brightest minds in his field.”
You can’t judge a book by its cover means that when you have only seen the surface of something, you cannot know what is on the inside. Example: “Don’t go falling in love with that girl so fast. Wait until you get to know her better. You can’t judge a book by its cover.”
Well, gue punya pengalaman menarik mengenai hal ini.
Tahun 2005 lalu ketika gue dapet kesempatan training ke Hong Kong, kebetulan hari pertama training (12 September 2005) bertepatan dengan Grand Opening Disneyland Hong Kong. Karena gue gak mau melepas kesempatan langka itu, gue minta izin ke instruktur training buat ikut training hanya 1/2 hari.
Untungnya waktu coffee break sempat ngobrol-ngobrol sama dia, dan karena gue satu-satunya orang non Hong Kong yang ikut training itu dia mempertanyakan kenapa gue training jauh-jauh ke Hong Kong dan kenapa gak di Jakarta ato ke negara lain yg lebih deket?
Gue terus terang bilang kalo waktu itu jadwal di Singapore sama Malaysia udah lewat, adanya cuman di Hong Kong sama Australia. Secara gue oriental freak, tentu saja gue bakalan milih Hong Kong. Dan tentu saja, waktunya bertepatan dengan Grand Opening Disneyland Hong Kong itu. Jadi begitu gue nanya, boleh minta izin masuk 1/2 hari gak? Tanpa nanya apa-apa lagi, dia langsung mengizinkan. Ah, senangnya…
Setelah makan siang, gue berdua dengan teman meluncur pake MTR ke Disneyland di Lantau Island. Ya, berbeda dengan di Singapore yang menggunakan istilah MRT (Mass Rapid Transit), Hong Kong menggunakan istilah MTR (Mass Transit Railway) yang biasa juga disebut metro.
Singkat cerita, sampailah kami di depan ticket booth dan langsung pesen tiket buat dua orang dewasa. Dengan ramah si mbak penjaga ticket booth bilang bahwa tiket sudah sold out sejak sebulan lalu. DAMN! Tentu saja, namanya juga grand opening! Boodoh! Kami berdua saling melempar pandangan penuh tanya, what next?! Udah bela-belain pergi jauh ke Lantau Island, udah bela-belain training setengah hari, ternyata gak dapet tiket masuk. Mo ngapain nih?!
Lagi bingung-bingungnya, tiba-tiba ada seorang cowok ngedeketin, dan sambil basa-basi nanyain apakah kami butuh tiket? Dia bilang kalo dia punya satu tiket lebih dan mau dijual. Ngeliat dari tampangnya sih, mirip-mirip calo tiket di Gambir. Kurang meyakinkan, lah! Gue pikir, wah di Hong Kong ada calo juga toh, kirain cuman di Jakarta doang. Dengan nada basa-basi juga kami jawab kalo butuhnya 2 tiket, percuma kalo satu tiket. Akhirnya dia cerita kalo dia udah beli 2 tiket, cuman karena temennya gak jadi ikut dan dia tetep pengen masuk, jadinya dia cuman mau jual 1 tiket. Berkali-kali kami bilang kalo percuma beli 1 tiket, karena kami juga gak mau cuman bisa masuk seorang. Abis mikir-mikir, akhirnya dia bilang kalo sepertinya dia harus ngelepas dua-duanya.
Kami masih berpikir kalo itu taktik dia buat jual tiket lebih mahal. Pas kami tanya harganya berapa, taunya dia bilang (sambil nunjuk harga tiket di ticket booth) harganya sama dengan harga resmi. Kami tambah gak percaya, takutnya tiket yg dia jual palsu. Trus dia bilang, gini aja.. ntar gue anter ke gerbang masuknya, abis kalian masuk, gue baru pulang. Hmm.. sounds fair. Saat itu kecurigaan kami udah mulai luntur, dan gue juga udah bisa bilang ke dia kalo he saves our day, dan kami sangat berterima kasih. Gue juga bilang karena dia orang Hong Kong, mestinya dia bisa ke sana kapan aja, sementara kami gak segampang itu.
Setelah dianter ke gerbang masuk, akhirnya dia pergi. Tak lupa dadah-dadahan bentar.. tapi lupa gak pake skrinsyut. Begitu masuk, kami masih ngebahas orang itu, kecurigaan kami sama dia, bahwa ternyata orangnya baek meskipun tampangnya kayak calo Gambir, dan akhirnya kami menyimpulkan bahwa “don’t judge the book by its cover!“.
Hong Kong memang bukan Jakarta, di mana di Jakarta kita gak boleh lengah meskipun saat ada orang yang berbuat baik sama kita. Tapi karena waktu itu masih di Hong Kong, boleh lah berlengah-lengah dikit, meskipun di sepanjang jalan Hong Kong ada tulisan: BEWARE OF PICKPOCKET! Ya ya ya.. meskipun ada orang baik, tapi di Hong Kong masih banyak copet!